Tampilkan postingan dengan label Seputar Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Membaca Al-qur'an

Keutamaan Membaca Al-qur'an - Seorang muslim hendaknya mengetahui sedikit banyak tentang kandungan kitab suci Al-qur'an agar menjadi pedoman dalam hidupnya sehinggga dapatkan kemudahan diwaktu melalui rintangan yang berada pada kehidupan, lebih-lebihnya dikehidupan keseharian suaya dapat memilah dan memilih mana yang semestinya dilakukan dan mana yang harus dihindarkan. 

Banyak hal yang menyebutkan fadilah-fadilah membaca Al-qur'an, rahasia tentang Al-quran sebagai wahyu ilahi kepada Nabi Muhammad SAW, dan yang sekarang ini adalah keutamaan dan perbedaan tentang seorang muslim ketika sedang membaca Al-qur'an.




Adapun hadist yang berasal dari Abi Musa Al-asy'ary Shohabat Rosullullah SAW;

عَنْ أَبِى مُوسَى الا شْعَرِىِّ قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
مَثَلُ الْمُؤمِنِ الَّذِى لا يَقْرَءُ الْقُرآنَ مَثَلُ الاتْرُجَّةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ
......وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤمِنِ الَذِى لا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ
لا رِيحَ لَهَا وَطَعْمَهَا حُلْوٌ
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رَيحُهَا طَيِّبٌ
وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ لَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ
لِيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Dari Abu Musa Al Ansari r.a. katanya :

Bersabda Rasulullah Shaalallahu Alaihi Wasallam. :

Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-quran seumpama uttrujah (sejenis buah seperti limau) baunya harum dan rasanya enak dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-quran seumpama kurama tidak berbauh tetapi rasanya manis dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-quran seumpama kemangi bauhnya wangi tetapi rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-quran seumpama handalah (sejenis tumbuhan liar yang menjalar) tidak berbauh dan rasanya pahit (Hadist shohih riwayat Muslim)

 Al-qur'an itu teman kita, Al-qur'an itu pengobat hati kita, Al-qur'an itu petunjuk kita, Al-qur'an itu Syafa'at kita, Al-qur'an itu rahmat kita, Al-qur'an itu penasihat kita, Al-qur'an itu makanan ilmu pada kehidupan kita, agar bisa terbimbing hati kita dan terbinanya akhlaq dengan baik dan sempurna pada kehidupan bersosial masyarakat. Bacalah Al-qur'an walaupun satu ayat setiap hari, semoga kelak Al-qura'an menjadi saksi dihari yang dinanti semua umat manusia dan sebagai amalan pemberikan syafa'at yang mulia di hari kiamat

Ada juga hadist yang lainnya menyebutkan tentang keutamaan Al-qur'an dan ini diriwayatkan dari pada Abdullah bin Amru r.a, sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda:

"Puasa dan al-Quran akan memberi syafaat kepada seseorang hamba pada hari kiamat." (Hadis riwayat Imam Ahmad).

Pengajaran yang boleh diambil dari Hadis tersebut adalah:

1- Di antara kelebihan ibadat puasa ialah ia akan memberi syafaat kepada orang yang berpuasa pada hari kiamat kelak apabila umat Islam menunaikannya secara sempurna dengan meninggalkan makan, minum, hawa nafsu, bercakap dengan percakapan yang diharamkan, melihat kepada benda yang diharamkan dan mencari rezeki melalui cara diharamkan.

2- Kelebihan bacaan Al-Quran di mana ia akan memberi syafaat kepada orang yang membacanya pada hari kiamat kelak.

Semoga dapat diambil hikamah dan dapat menjalankan dengan sepenuh hati agar keihlasan pada pengamalan akan membentuk citra yang positif pada tindakan keseharian sehingga kerabat maupun orang yang baru dikenal dapatkan nilai positif dari pelajaran yang diterapkan pada keseharian.
Baca juga Adab Dan Shalat Tarawih Bagi Wanita


Read more

Adab Dan Shalat Tarawih Bagi Wanita

Adab Dan Shalat Tarawih Bagi Wanita - Ada seorang wanita shahabat Nabi Shalallaahu alaihiwasalam namanya Ummu beliau bercerita, Humaid ingin mengikuti shalat bersama Rasul Shalallaahu alaihi wasalam di masjid Nabi, maka Rasulullah memberikan jawaban yang begitu indah dan berkesan, yang artinya;
"Sungguh aku tahu, bahwa engkau senang shalat bersamaku, padahal shalatmu di dalam kamar lebih baik dari pada shalatmu di rumah, dan shalatmu di dalam rumah lebih baik dari pada shalatmu di masjid kampungmu, dan shalatmu di masjid kampung lebih baik daripada shalatmu di masjidku ini." (HR. Ibnu Khuzaimah, di dalam shahihnya).

Hadits di atas barangkali memiliki korelasi yang erat dengan hadits lain riwayat Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah, dari Ibnu Mas'ud Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda; "Sesungguhnya wanita adalah aurat, apabila dia keluar, maka syetan menghiasnya. Dan sedekat-dekatnya seorang wanita kepada Tuhannya adalah tatkala ia berada di bagian paling tersembunyi di rumahnya." 

Berdasarkan dua hadits di atas dapat diambil pengertian, bahwa pada dasarnya kondisi paling utama seorang wanita adalah tatkala berada di tempat yang paling tersembunyi, termasuk ketika melakukan shalat. Apabila seorang wanita ingin shalat berjama'ah -termasuk Tarawih-, maka hendaknya memilih tempat tersendiri khusus untuk para wanita. Kalau mengharuskan shalat di masjid yang biasa digunakan shalat oleh kaum pria, maka hendaknya memperhatikan adab-adab dan aturan ketika menuju ke sana. Karena tidak selayaknya seseorang ingin mencari pahala, namun dalam waktu bersamaan melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala. 


Di antara adab-adab yang perlu diperhatikan oleh seorang wanita ketika akan mendatangi masjid (khususnya shalat tarawih) adalah sebagai berikut: 

1. Ikhlas.

Hendaknya ketika berangkat ke masjid benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin bertemu dengan para wanita atau ibu-ibu yang lain, bukan karena ingin mendengarkan bacaan Imam, atau karena ikut-ikutan temannya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhannahu wa Ta'ala, (lihat di dalam surat al-Bayyinah ayat 5). Dan juga sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,"Barang siapa mendatangi masjid untuk tujuan tertentu, maka itulah yang menjadi bagiannya." (HR. Abu Daud) 

2. Meminta Izin Seorang wanita yang akan pergi ke masjid seharusnya meminta izin kepada ayah atau suaminya.

Berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, “Janganlah kalian melarang wanita untuk mendatangi masjid, bila mereka minta izin kepada kalian." (Shahih Muslim) 

Di dalam riwayat yang Muslim yang lain disebutkan, "Apabila istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, maka berilah mereka izin." Jika telah mendapatkan izin, silakan ke masjid, namun jika tidak diizinkan janganlah berangkat, karena taat terhadap suami lebih didahulukan daripada ibadah sunnah, demikian pula seorang putri jika tidak diizinkan ayahnya. Selayaknya seorang suami jangan melarang istrinya pergi ke masjid, bila telah meminta izin dengan baik-baik, kecuali jika ada kondisi yang tidak mengizinkan, seperti bahaya atau gangguan di jalanan. Namun para wanita juga harus menyadari, bahwa shalat mereka di rumah adalah lebih utama, dan juga keluarnya mereka ke tempat umum justru terkadang menimbulkan fitnah atau dosa. 

3. Berhijab/Menutup Aurat.

Jangan sampai pergi ke masjid dalam kondisi tabarruj, yakni berdandan dan seronok, sengaja memancing perhatian, berpakaian ketat serta menampakkan perhiasan atau auratnya, sebab sekali lagi harus diingat, bahwa jika wanita keluar rumah, maka syetan menghiasnya, sehingga kelihatan menggoda dan menarik. Tabarruj adalah salah satu sifat wanita-wanita jahiliyyah yang tercela sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertabarruj (berhias dan bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS al-Ahzab: 33) 

Syarat-syarat hijab adalah:

* Menutup seluruh tubuh 
* Tidak membentuk lekuk tubuh 
* Tidak pendek atau ketat 
* Tidak transparan 
* Bukan pakaian mewah untuk pamer 
* Tidak mengikuti mode wanita kafir 
* Tidak menyerupai pakaian laki laki dan 
* Tidak bercorak menyolok atau bergambar makhluk hidup. 

4. Tidak Memakai Parfum Parfum merupakan salah satu penyebab fitnah dan kerusakan, bila salah dalam mempergunakannya. 

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah melarang wanita yang menggunakan minyak wangi untuk menghadiri shalat Isya', sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim. Bukan sekedar itu saja, bahkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memberikan peringatan lebih keras lagi dalam hal ini, sebagaimana sabda beliau Shalallaahu alaihi wasalam, "Wanita mana saja yang menggunakan parfum lalu keluar ke masjid, maka shalatnya tidak di terima sebelum dia mandi." (HR. Al-Baihaqi). 

Jika pergi ke masjid untuk beribadah tidak boleh menggunakan parfum, maka apalagi jika perginya adalah ke tempat-tempat umum selain masjid, tentu lebih tidak boleh lagi . Berdandan, menampakkan kecantikan dan menggunakan parfum untuk dipamerkan kepada laki-laki lain adalah kebiasaan para pelacur. Maka seorang wanita muslimah yang terhormat tidak boleh meniru-niru tingkah mereka, karena sangat beresiko dan dapat menjerumuskannya ke dalam maksiat. 

5. Tidak Berkhalwat.

Yakni tidak boleh jalan berduaan dengan laki-laki lain (bukan mahram) baik itu berjalan kaki maupun berduaan di dalam mobil, entah itu teman, tetangga atau sopir pribadi sekalipun. Berdasarkan kepada hadits nabi Shalallaahu alaihi wasalam, "Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali wanita tersebut disertai mahramnya." (HR. Muslim dari Ibnu Abbas) Di dalam riwayat lain disebutkan, bahwa jika seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, maka pihak ke tiganya adalah syetan. 

6. Merendahkan Suara Secara umum bukan hanya wanita saja yang diperintahkan untuk merendahkan suara dan tidak mengeraskannya, apalagi di dalam masjid. 

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. 31:19) Dan bagi wanita, masalah ini lebih ditekankan lagi, sehingga wanita apabila mengingatkan imam yang lupa atau salah cukup dengan menepukkan telapak tangan kanan ke punggung tangan kiri, bukan bertasbih (mengucap subhanallah). Hendaknya wanita menjaga suaranya di hadapan kaum laki-laki, karena tidak seluruh laki-laki hatinya sehat, di antara mereka ada yang hatinya sakit, dalam arti mudah tergoda dengan suara wanita. Pembicaraan seorang wanita hanya dibolehkan di dalam hal-hal yang memang mengharuskan, seperti jual beli, memberikan persaksian, menjawab salam dan semisalnya. Ini pun harus diperhatikan, agar jangan sampai melembutkan suara, atau sengaja dibuat-buat supaya menarik. 

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya, [“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa.Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS. 33:32) Jika wanita-wanita suci semisal istri Nabi masih diperintahkan untuk demikian, maka selayaknya para muslimah juga mencontoh mereka. 

7. Menundukkan Pandangan Para wanita hendaknya menundukkan pandangan dari laki-laki lain yang bukan mahram.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An-Nuur: 31) Pandangan mata, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim adalah cerminan hati, jika seorang hamba dapat menundukkan pandangannya, maka ia akan dapat menundukkan syahwat dan segala kemauannya. Sebaliknya jika pandangan dibiarkan dengan bebas dan leluasa, maka syahwat akan menguasainya. Jarir pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang pandangan yang tidak disengaja, maka beliau menjawab, "Palingkanlah pandanganmu." (HR Ahmad) 

Dari Buraidah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah berkata kepada Ali Radhiallaahu anhu, "Wahai Ali jangan kau susul pandangan (pertama) dengan pandangan yang lain, karena untukmu hanya yang pertama, dan selebihnya bukan buatmu." (HR. Ibnu Abdul Barr) 

8. Hindari Ikhtilath Jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan, baik ketika di jalan, ketika masuk masjid maupun ketika bubar dari masjid. 

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan dari Hamzah bin Usaid dari ayahnya, bahwa dia mendengar Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda sedang beliau berada di luar masjid, dan kaum pria saat itu bercampur dengan kaum wanita di jalan, maka beliau pun bersabda kepada para wanita, "Menepilah kalian, sesungguhnya kalian tidak ada hak di tengah jalan, hendaklah kalian semua berjalaan di tepian." (HR. Abu Daud dan Baihaqi). Maka seketika itu para wanita menepi ke tembok. 

9. Tidak Menelantarkan Anak-anak Termasuk tanggung jawab terbesar seorang wanita (ibu) adalah mendidik dan mengawasi anak, dan kelak dia akan ditanya oleh Allah tentang tanggung jawab ini. 

Apabila kepergian seorang wanita ke masjid dengan menelantarkan anak-anak, seperti menyerahkan kepada pembantu yang kurang baik akhlaknya, atau menjadikan anak pergi leluasa bergaul dengan teman-teman yang buruk, maka hal itu tidak dibenarkan. Karena mencegah sesuatu yang buruk (terlantarnya anak) lebih di dahulukan daripada mencari manfaat (tarawih di masjid). 

10. Menjaga Adab di Masjid Masjid adalah rumah Allah dan tempat yang sangat mulia, ketika seseorang akan memasukinya, maka harus memperhatikan dan manjaga adab-adab ketika berada di dalamnya. 

Di antara yang perlu diperhatikan adalah: 

* Menjaga kebersihan dan jangan sampai membuang kotoran di dalam masjid 
* Tidak mendatangi masjid ketika habis makan bawang (jengkol, petai semisalnya) 
* Tidak meludah di masjid, jika terpaksa hendaknya meludah di tissu, sapu tangan atau pakaian, dan jangan meludah ke arah kiblat. 
* Mengawasi anak-anak agar jangan merobek atau melempar-lempar mushhaf 
* Jangan memasukkan gambar-gambar makhluk bernyawa ke dalam masjid, baik berupa motif baju anak, mainan, majalah dan lain-lain.

Semoga dapat diperhatikan betul adab dan tatacara seorang muslimah masuk diarea masjid agar tidak menjadi kesenjangan islami yang telah ada aturannya sehingga akan tetap menjaga kesucian yang telah ada.
Read more

Tak Sekedar Lapar dan Haus


Tak Sekedar Lapar dan HausIbadah puasa memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah swt dan akan memberikan pahala yang berlipat ganda sesuai kualitas puasa yang dilakukan seorang hamba. Semakin tinggi kualitas puasanya, semakin banyak pula pahala yang didapatnya, yaitu puasa yang tidak hanya sekadar manahan lapar dan dahaga. Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah swt. 

Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda;

"Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata, "Kecuali puasa, Aku yang akan membalas orang yang mengerjakannya, karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makannya karena Aku." (HR. Muslim).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa dan Allah swt akan melipatgandakan pahalanya bukan sekadar 10 atau 700 kali lipat, namun akan dibalas sesuai dengan keinginan-Nya. Padahal kita tahu bahwa Allah Maha Pemurah, maka tentu Allah akan membalas pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.

Akan tetapi, bisa jadi ada orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus. Nabi saw pernah bersabda;

"Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, dan berapa banyak orang yang mendirikan ibadah di malam hari, tapi hanya mendapatkan begadang saja." (HR. Ahmad)



Dan di antara penyebabnya adalah:

1. Berpuasa Hanya Ikut-ikutan

Setiap Muslim harus membangun ibadah puasanya di atas iman kepada Allah swt dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekadar ikut-ikutan keluarganya atau masyarakatnya yang sedang berpuasa. Rasulullah saw bersabda;

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah swt, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaqun 'alaih).

2. Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat

Di antara umat Islam, ada yang begitu semangat mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, akan tetapi mereka meninggalkan shalat. Ketika ditanya, "Mengapa Anda berpuasa tapi meninggalkan shalat?" Mereka menjawab, "Saya juga ingin dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat pintu bernama ar-Rayyan, di mana orang-orang yang berpuasa masuk lewat pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang masuk dari situ selain mereka (orang yang berpuasa) dan jika mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan bukankah antara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa?"
Yah, Rasulullah saw memang telah berkata demikian. Tapi mereka tidak mengetahui  atau pura-pura tidak tahu kelanjutan dari hadits ini.

"Antara Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim).

Jadi Rasulullah saw mempersyaratkan dijauhinya dosa-dosa besar. Sedangkan mereka justru meninggalkan shalat. Apakah mereka menganggap dosa meninggalkan shalat adalah dosa sepele? Para shahabat memandang orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir.

Rasulullah saw bersabda;

"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir" (HR. Ahmad dan para penulis kitab Sunan).
Dan sebagaimana diketahui bahwa orang kafir tidak diterima amalannya.
Allah swt berfirman, (artinya):

"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (QS. At-Taubah: 54).

Rasulullah saw bersabda;

"Sesungguhnya amalan yang paling pertama yang akan dihisab atas seorang hamba dari amalan-amalannya pada hari kiamat kelak adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka sungguh ia telah bahagia dan berhasil. Akan tetapi, jika shalatnya buruk, maka sungguh ia telah binasa dan merugi." (HR. Nasai)

Karena itu sudah sepantasnya seorang yang meninggalkan shalat menjadikan Ramadhan sebagai moment yang tepat baginya untuk bertaubat dan melaksanakan shalat secara kontinu baik di bulan yang suci ini maupun di bulan-bulan lainnya.

3. Melakukan Hal-hal atau Kegiatan-kegiatan yang Mengundang Syahwat

Seseorang yang berpuasa lalu mengeluarkan mani tanpa berhubungan badan baik lewat onani atau pun hal-hal lain yang memancing syahwatnya seperti menonton atau bacaan-bacaan porno maka puasanya pada hari itu batal dan diwajibkan atasnya untuk mengqadhanya (mengganti puasa yang batal tersebut) pada hari lain setelah Ramadhan.

Syaikh Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatak​an; bahwasanya seseorang yang bermimpi basah pada saat berpuasa maka tidak ada sanksi baginya, karena mani yang keluar bukan atas keinginannya, bahkan keluarnya mani tersebut tanpa ia sadari, sedangkan bagi yang sengaja mengeluarkan mani dengan onani, maka sesungguhnya ia berdosa besar kepada Allah swt, sehingga hal itu menyebabkan puasanya batal dan wajib baginya untuk mengqadha dan bertaubat dengan benar 

4. Tidak Menjaga Lidah

Seseorang yang sedang berpuasa hendaknya bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya. Rasulullah saw bersabda;

"Puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti, maka katakanlah, 'saya sedang berpuasa'." (HR. Muslim).
Rasulullah saw juga telah bersabda; 

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata 'zuur' dan beramal dengannya maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk memberinya ganjaran pahala terhadap makanan dan minuman yang ia tinggalkan (puasanya).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lalu apakah yang dimaksud dengan kata-kata zuur ?
Imam Ath-Thibi menjelaskan hadits ini, “Kata-kata zuur adalah kata-kata bohong dan dusta, yaitu barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata yang batil baik ia berupa kata-kata yang mengandung kekufuran, saksi palsu, memfitnah, menceritakan kejelekan orang lain (ghibah), berdusta, menuduh, mencela, melaknat dan semisalnya dari perkataan-perkataan yang diwajibkan atas setiap orang untuk menjauhinya dan diharamkan baginya untuk melakukannya”.

Semoga manfaat yang dapat diambil bisa menjadi tuntunan yang islami dalam menjalankan ibadah puasa dan dijadikan sebagai muslim yang sejati sehingga dalam menjalankannya ada kemantapan hati dan berupaya agar menjadi lebih baik lagi.
Read more

Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan - Bulan yang penuh dengan ampunan dan hikmah akan kenyataan pada kesabaran yang dilakukan dalam keseharian disaat menjalani puasa di bulan Ramadan dan juga ada harapan untuk menerapkan dalam aktifitas harian setelahnya. Dengan inilah akan dapat diketahui bahwa yang memperoleh kemenangan sesunguhnya adalah insan yang dapat menjaga aktifitas ibadahnya secara menyeluruh sampai usai bulan Ramadhan.

Berbagai  referensi telah disebutkan baik yang ada pada Al-qur'an maupun hadistnya, sehingga didalamnya menyebutkan berbagai hal tetang fadhilah-fadhilah atau keutamaan yang terdapat pada bulan Ramadhan dengan penuh keberkahan tersebut. Dijadikan "hirroh" (keinginan pada semangat yang kuat) dalam hati sanubari untuk mengamalkan akan aktifitas yang berunsurkan nilai-nilai positif bagi peribadi  maupun sekitarnya sehingga menjadi insan yang kamil (sempurna).

Adapun sebagaian ayat pada surat Al-qr'an telah disebutkan tentang isi yang terdapat pada bulan ramadhan, salah satunya yaitu di surat Al-baqoroh;

"Bulan Ramadhan adlah bulan turunnya Al-Quran, petunjuk bagi manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu juga menjadi penegak kebenaran, membedakan antara yang benar dan yang batil",( QS (2) Al-Baqarah Ayat: 185).

Dan disebutkan pula  dalam hadistnya;
Dari Abu Hurairah ra : Nabi Allah Muhamad saw bersa...bda:"Barang siapa yang lega hati dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan, pasti Allah mengaharamkan tubuhnya atas api neraka".

Beliau juga bersabda pada hadist qudsinya; "pada malam pertama bulan Ramadhan, Allah berfirman ; "Siapa yang mencintaiku, pasti Akupun mencintainya, siapa yang mencari rahmatku, pasti rahmatkupun mencarinya, dan siapa ber istighfar kepadaku, pasti aku mengampuninya, berkat hormat Ramadhan, lalu Allah menyuruh malaikat mencatat amal, khusus dalam bulan Ramadhan supaya menulis amal kebaikan semata, tidak memcatat kejahatan, keburukan  atau kesalahan mereka (umat Muhammad) dan Allah menghapus dosa dosa terdahulu bagi mereka".

Dari ibnu Abbas ra; "katanya, aku mendengar Rasul saw. bersabda : "Andai kata umatku tahu tentang sesuatu yang tersembunyi dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan seluruh bulan dalam setahun menjadi bulan Ramadhan semuanya".

Dari Hafsh al-Kabuur dari Daud Ath-Thai mendengar Rasulullah bersabda; "Surga sangat rindu terhadap 4 macam manusia, yaitu; Pembaca al-Quran, Pemelihara lidah, Pemberi makan orang yang lapar serta Mereka yang ahli puasa di bulan Ramadhan", beliau juga bersabda; "Ketika awal hari (hilal) bulan Ramadhan telah nampak berseruhlah 'Arasy, Kursi allah, dan para Malaikat serta makhluk lainnya dengan keras, kata mereka; Beruntunglah kalian umat Muhamad, dengan kemulyaan di sisi Allah SWT".




Karena segenap makhluk memohon ampun bagi mereka, mulai dari makhluk yang  besar seperti Matahari, Bulan, Bintang, dan burung burung di langit, serta ikan ikan dilautan, hingga setiap hewan dan binatang melata di bumi yang bernafas, semua tiada tertinggal memohonkan ampun buat mereka diwaktu siang dan malam, kecuali syaitan terkutuk. Maka pagi-pagi tiada seorangpun dibiarkan hidup penuh dosa, mereka diampuni oleh Allah SWT. Sungguh amat mulianya bulan suci ramadan yang penuh dengan rahmat dan ampunan didalamnya.

Bahkan Allah SWT berseru pada malaikat; "Hadiahkanlah semua pahala sholawat dan tasbihmu selama bulan Ramadan bagi umat Muhamad saw".

Dari Umar bin Khatab ra, Nabi saw bersabda; " Di bulan Ramadhan, apabila seseorang  terbangun dari tidurnya, lalu mengerakkan anggota tubuhnya diatas tempat tidurnya, maka malaikat berseruh; "Bangunlah segera, semoga allah memberkati dan memberi rahmat kepadamu", kemudian apabila ia tegak, hendak melakukan sholat, maka tempat tidurnyapun berdo'a, "ALLAAHUMMA A'THIHIL FURUSYAL MARFUU'ATA", yang artinya; "Ya Allah, gantikanlah tempat tidur yang bagus dan tebal baginya".

Ketika ia memakai pakaian, maka pakaianpun berdoa untuknya; " ya Allah, berikan pakaian yang indah dari sorga", pada waktu ia mengenakan sandal, maka sandalpun berdoa untuknya; " ya Allah tegakkanlah kedua kakinya diatas shirath kelak", dan ketika berwudhu', maka airpun berdoa untuknya; " ya Allah, bersihkanlah ia dari segala noda dan dosa", dan ketika diangkat kedua tangannya untuk bertakbir dalam sholat, maka rumahnyapun berdoa untuknya; "ya Allah, lapangakanlah kuburnya, dan terangkanlah liangnya, serta tingkatkanlah rahmat dan kasih sayangMu pada orang ini" Allahu Akbar.

Ada satu hikayah religi; "seorang pria bernama Fulan, selamanya belum pernah melakukan sholat sama sekali, kemudian di saat bulan Ramadhan tiba, tersentuhlah hatinya untuk bertobat dan beribadah kepada Alla SWT, semenjak awal bulan Ramadhan ia hiasi dirinya dengan pakaian yang indah dan harum haruman, ia kerjakan sholat dan berusaha mengqodhla sholat yang tidak perna ia lakukan selama hidupnya". Tiba tiba datang seorang temannya dan bertanya padanya; "kenapa kau lakukan ini", lalu dijawabnya; "Ketahuilah teman, bahwa bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan bertaubat, bulan yang penuh  dengan rahmat dan kebaikan, semoga demikian saya bertaubat dan beribadah sebagai layaknya manusia yang berusaha dan Allah SWT yang menentukan atas pengampuna dosa-dosaku". Al-kisah si Fulan ini meninggal dunia sehingga kemudian, para temannya bertemu dalam mimpi dan ketika ditanya; "Balasan apa yang kau dapat dialam baqa' sana dari Allah SWT", dijawab oleh Fulan; "Allah SWT mengampuni segalah dosa-dosaku, berkat aku menghormati bulan suci Ramadhan, aku menyambutnya dengan Taubat serta beribadah didalamnya".

Dengan demikin kita dapat mengetahui seutas cerita yang membikin keyakinan semakin mantap akan keagungan di bulan ramadhan dan meneguhkan keinginan akan motifasi untuk berbuat baik lebih didalam bulan Ramadhan maupun setelah usai melaksanankan ibadah puasa.
Baca  juga Kembali Kefitrah 
Read more

Kembali Kefitrah

Kembali Kefitrah - Orang yang menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadan akan terlahir kembali seperti bayi yang tidak berdosa atau kembali suci. Hal itu karena Allah Swt telah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu; ia keluar dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. 

Akan tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah; apakah pengampunan dari Allah itu akan kita dapat hanya dengan melaksanakan puasa saja? Apakah hanya dengan menghentikan sejenak aktivitas maksiat hanya pada bulan Ramadan, sedangkan nanti setelah Ramadan dilanjutkan lagi maksiatnya? Ataukah orang yang melaksanakan puasa Ramadan dengan menghiasinya dengan melakukan ibadah taqarub ilallah yang lebih dibandingkan bulan-bulan biasa?

Kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan menjalankan perintah Allah tersebut dengan menetapi fitrah, yakni menetapi karakteristik penciptaan manusia dan potensi insaniah untuk siap menerima kebenaran yang ada. Jadi, kembali pada fitrah tidak lain adalah dengan terus mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap disetiap saat menerima kebenaran.


Sedangkan Puasa Ramadan dan serangkaian aktivitas Ramadan sebenarnya telah mengkondisikan dan melatih kita menyadari dan memahami fitrah kita sehingga Fitrah itu akan terus berkembang, menjadikan dirinya selalu siap menerima kebenaran. Puasa akan menjadikan ia lebih merasakan dan memahami dirinya sebagai makhluk yang diliputi keserbalemahan dan keterbatasan, dengan begitu kita akan lebih merasa membutuhkan Penciptanya, dan selalu membutuhkan petunjuk dari-Nya.

Fitrah mengharuskan manusia hanya menerima agama, ideologi dan sistem hidup yang memang sesuai dengan fitrahnya sehingga manusia akan terdorong oleh fitrahnya untuk mencari agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah.

Hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah hanya bisa menerima aturan yang  sesuai dengannya. Oleh karena itu, kembali ke fitrah dengan menetapinya dan mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap menerima kebenaran yang akan mengharuskan kita hanya menerima Islam dan menolak semua agama dan ideologi selain Islam. Sebab, hanya Islam yang sesuai dengan fitrah.

Kembali kepada fitrah adalah kembali pada akidah dan syari’ah Islam. Dengan itu manusia akan selamat dari segala macam bentuk kerusakan dan akan menikmati kehidupan yang dipenuhi kebaikan, kesejahteraan, dan berkah dari Allah, Tuhan semesta alam.

Baca  juga Amal Ramadhan karena didalamnya  disebutkan berbagai hal yang dapat meningkatkan kualitas pada amal ibadah kita baik pada bulan ramadhan hingga setelahnya. 
Read more

Amal Ramadhan

Amal Ramadhan - Demikian banyaknya keutamaan dan peluang untuk berubah di hadapan Allah SWT di bulan Ramadhan ini hingga bulan Ramadhan sering dikiaskan dengan perumpamaan Tamu Agung yang istimewa. Perumpamaan dan keistimewaan itu tidak saja menunjukkan kesakralannya dibandingkan dengan bulan lain.  Allah telah menjanjikan balasan surga bagi hamba-hambaNya yang mukmin dan beramal sholeh. Tiap amal dan perbuatan seorang mukmin diberikan ganjaran pahala jika itu amal sholeh, dan ganjaran dosa jika itu amal yang buruk.

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shaleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar ...perkataannya daripada Allah? (QS (4) An Nisaa Ayat : 122)


Pada bulan Ramadhan, tiap amal sholeh yang dikerjakan seorang mukmin akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda. Rasulullah saw bersabda; 

“Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.” (HR. Bukhari Muslim).

“Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib” (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah)

Adapun beberapa amalan yang hendaknya ditingkatkan oleh seorang mukmin selama bulan Ramadhan adalah sebagai berikut.

1. Perbanyak Shalat Sunnah
Shalat di bulan Ramadhan akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Hingga shalat sunnah seorang mukmin di bulan Ramadhan bernilai seperti shalat fardhunya, dan shalat fardhunya bernilai 70 kali shalat fardhu pada bulan lain.

Salah satu shalat sunnah yang dijaga Rasulullah saw (Muakkadah) adalah shalat sunnah Rawatib yaitu shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat fardhu, yang berjumlah 12 raka’at antara lain, rakaat sebelum Shubuh, 4 rakaat sebelum Zuhur, 2 rakaat ba’da Zhuhur, 2 rakaat sebelum Magrib, 2 rakaat setelah Isya. Rasulullah saw bersabda;

“Barang siapa yang shalat dalam satu hari satu malam dua belas rakaat, selain shalat wajib, dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga”. (HR Muslim)

2. Tilawah Al Quran

Bulan Ramadhan adalah bulan ketika Al Qur’anul Karim diturunkan pertama kali kepada Rasulullah saw. Sehingga alangkah indahnya jika bulannya Qur’an ini kita isi dengan membaca Al Qur an. Dan bukankah Allah dan  rasulNya mencintai seorang mukmin yang rutin membaca Al Qur an. Allah SWT berfirman;

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…”(QS (2) Al Baqarah Ayat : 185)

Sebuah hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas`ud;

“Barang siapa yang mencintai kalam-kalam Allah (Al-Qur`an) dengan selalu mengaji dan mengkajinya, berarti dia juga cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Barang siapa yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah dan Rasul-Nya pun akan mencintainya“

3. Sejukkan Lisan dengan Dzikir
Dzikir adalah suatu amal yang dapat menghidupkan hati manusia dari matinya terhadap keimanan dan taqwa. Seorang Tabi’in mengatakan;

 “Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Orang yang belum memasuki surga dunia, tidak masuk ke dalam surga akhirat. Surga dunia itu adalah dzikrullah.”

Ada tiga jenis dzikir yang dapat kita lakukan untuk memperbanyak amal di bulan Ramadhan; 

*Yang pertama adalah dzikir pagi dan sore, melafadzkan tasbih, tahmid dan tahlil, serta takbir dan istighfar.
*Yang kedua adalah dzikir dalam bentuk do’a yang mengiringi aktifitas sehari-hari.
*Yang ketiga adalah dzikir hati atau tafakkur, mentadabburi alam semesta dan berbagai fenomena alam di sekitar kita. 

Sikap ini akan semakin memantapkan keimanan didalam hati. Lalu menumbuhkan kepasrahan kepada Allah SWT. Dalam sebuah kisah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw;

“Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Engkau berpisah dari dunia dalam keadaan lisanmu basah dengan berdzikir pada Allah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih. Lihat Misykatul Mashobih)



4. Dirikanlah Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Shalat malam yang khusus dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Jika seorang mukmin berpuasa pada siang Ramadhan dan tarawih pada malam harinya, niscaya Allah SWT akan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda;

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan kepada kalian, dan aku mensyariatkan kepada kalian agar mendirikan qiyam pada malam harinya (dengan shalat tarawih). Maka Barangsiapa yang berpuasa dan mendirikan qiyam pada malam harinya karena iman dan mengharap ridha Allah SWT niscaya keluar segala dosa-dosanya seakan ia baru dilahirkan dari rahim ibunya”.(Nasai, Ibnu Majah dan Musnad imam Ahmad)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman (membenarkan janji-janji Allah SWT) dan ihtisaban (mangharap ridha Allah SWT dan pahala) niscaya diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu” (Bukhari dan Muslim).

Selain mendirikan shalat tarawih, sebagai shalat malam khusus di bulan Ramadhan, hendaknya seorang mukmin juga melaksanakan shalat tahajjud sebagai suatu rutinitas harian.

5. Beri’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak dzikir, istighfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

6. Semangat untuk Infaq dan Shadaqah

Salah satu tujuan ibadah Ramadhan adalah agar seorang mukmin memiliki suatu rasa kasih sayang terhadap sesama dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh kaum dhuafa. Infaq dan Shadaqah adalah wujud kepedulian kita terhadap sesama dan lingkungan sekitar kita. Dan Allah SWT yang Maha Kaya akan memberikan ganjaran yang berlipat ganda. Rasulullah saw bersabda;

“Sebaik-baiknya shadaqah adalah shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi)

7. Pelihara Sabar dan Jalin Silaturahmi

Sikap sabar dan dapat menahan amarah adalah salah satu sikap Rasulullah saw. Dan hal ini juga salah satu yang dapat menghindarkan kita dari perbuatan yang mengurangi nilai ganjaran ibadah Ramadhan. Dengan adanya kesabaran dalam hati, maka semua masalah yang ada akan dapat dihadapi dengan tenang. Sehingga ukhuwah islamiyah antara sesama mukmin dapat terjalin dengan baik dan hal ini menjadi salah satu tujuan penting dari ibadah Ramadhan yakni berpuasa adalah untuk melatih kesabaran seorang mukmin dan meningkatkan iman taqwa dalam hatinya.

8. Perbaiki Kualitas Puasa

Seseorang yang berpuasa dibagi atas tiga tingkatan berdasarkan kualitas puasa yang dikerjakannya, adapun tingkatan itu adalah;

*Yang pertama yakni puasa awam atau orang yang berpuasa menahan makan, minum, syahwat kepada lawan jenis di siang hari dibulan puasa.

*Yang kedua yakni puasa khawash puasa anggota badan dari yang haram, menahan mata, dari yang haram, menahan tangan dari yang haram, menahan tangan dari yang tidak hak, menahan langkah kaki dari jalan menuju yang haram, manahan telinga dari mendengarkan yang haram termasuk ghibah.

*Yang terakhir adalah puasa khawashul khawas yakni berpuasa dengan tujuan mengikat hati dengan kecintaan pada Allah SWT, tidak memperhitungkan selain Allah, membenci prilaku maksiat kepada-Nya.

Mudah-mudahan Allah SWT menerima segala amal dan ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan baik yang fardhu maupun yang sunnah. Dan Semoga Allah SWT menjadikan tiap pada bulan Ramadhan menjadi sarana pembelajaran dan perbaikan diri.
Read more

Makna dan Hikmah Ramadhan

Makna dan Hikmah Ramadhan - Bulan Ramadhan selain bulan yang penuh berkah sebenarnya mempunyai beberapa nama julukan. Nama-nama itu merefleksikan makna keberkahan Ramadhan yang dapat diraih bagi yang menjalaninya dengan benar. Bagi Umat Islam, pengidentifikasian nama-nama bulan Ramadhan dengan berbagai sinonimnya sebenarnya mengandung maksud tertentu. Nama-nama itu diungkapkan dengan singkat dan tepat sebagai “pengingat cepat atau penggugah” dan “keywords” tentang apa yang sebaiknya dilakukan di bulan tersebut.

Selain itu, nama-nama bulan Ramadhan juga menyatakan berkah dan maghfirah yang dapat diraih pada kondisi dan suasana paling baik selama satu tahun ke belakang dan ke depan (Ramadhan tahun depan seandainya masih bisa diberi kesempatan berumur).

Demikian banyaknya keutamaan dan peluang untuk berubah di hadapan Allah SWT di bulan Ramadhan ini hingga bulan Ramadhan sering dikiaskan dengan perumpamaan Tamu Agung yang istimewa. Perumpamaan dan keistimewaan itu tidak saja menunjukkan kesakralannya dibandingkan dengan bulan lain. Namun, mengandung suatu pengertian yang lebih nyata pada aspek penting adanya peluang bagi pendidikan manusia secara lahir dan batin untuk meningkatkan kualitas ruhani maupun jasmaninya sepanjang hidupnya, Karena itu, Bulan Ramadhan dapat disebut sebagai Syahrut Tarbiyah atau Bulan Pendidikan.

Penekanan pada kata Pendidikan ini menjadi penting karena pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah SWT. Pendidikan itu meliputi aktivitas yang sebenarnya bersifat umum seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita diajarkan oleh supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Jadi, pendidikan itu berhubungan langsung dengan penataan kembali kehidupan kita di segala bidang.

Menata kehidupan sesungguhnya bagian dari proses mawas diri atau introspeksi. Jadi, bulan Ramadhan sesungguhnya bulan terbaik sebagai masa mawas diri yang intensif. Proses mawas diri melibatkan evaluasi diri ke wilayah kedalaman jiwa untuk dinyatakan kembali dalam keseharian sebagai akhlak dan perilaku mulai yang membumi.

Tentunya evaluasi ini didasarkan atas pengalaman hidup sebelumnya yaitu pengalaman atas semua peristiwa dan perilaku sebelas bulan sebelumnya sebagai ladang maghfirah yang sudah disemai dan ditanami pohon benih-benih perbuatan. Selain itu, evaluasi juga mencakup taksiran untuk kehidupan di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Pada masa Rasulullah peperangan fisik banyak terjadi pada bulan Ramadhan dan itu semua dimenangkan kaum muslimin. Peperangan fisik di masa Rasulullah adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditolak karena situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu. Namun, seperti diungkapkan dalam hadis Nabi seusai Perang Badar, yang paling berat adalah peperangan kita untuk berjihad melawan hawa nafsu sendiri. Karena itu bulan Ramadhan sering disebut sebagai Syahrul Jihad dengan fokus pada pengendalian hawa nafsu diri sendiri (yaitu Wa Nafsi, simak ( QS (91) Asy-syams Ayat :7).

Jihad melawan nafsu adalah ungkapan untuk menyucikan dan memurnikan nafsu kita untuk kembali semurni-murninya, yaitu dalam keadaan fitri. Ungkapan ini sebenarnya berasal dari firman Allah dalam ( QS (91) Asy-syams Ayat :7-10) dan beberapa ayat lainnya yang berbunyi senada yaitu menyucikan jiwa.

Menyucikan Jiwa adalah syarat yang mengiringi proses awal penerimaan wahyu yaitu IQRA (simak QS (96) Al-'alaq Ayat :1-5). Hal ini tentunya erat kaitannya dengan buah dari pendidikan jiwa secara intuitif maupun intelektual murni (atau intelek awal), dengan rasionalitas dan penyingkapan tabir-tabir gelap jiwa kita yang sejatinya “Ummi” dan “Fakir” di hadapan Allah, Rabbul ‘Aalamin (Pencipta, Pemelihara dan Pendidik semua makhlukNya).

Dari kedua pengertian nama bulan Ramadhan sebagai Bulan Pendidikan dan Bulan Jihad Melawan hawa nafsu tersebut, maka terungkaplah kemudian nama bulan Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an.

Al-Qur’an pertama sekali diturunkan di bulan Ramadhan dan pada bulan ini sebaiknya kita banyak membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an sehingga kita faham dan mengerti perintah Allah yang terkandung di dalamnya. Karenanya, penamaan Syahrul Tarbiyah dan Syahrul Jihad sebenarnya berhubungan dengan suatu prakondisi sebelum Nabi Muhammad SAW menerima al-Qur’an sebagai Wahyu yang diwahyukan. Dalam konteks ini maka bulan Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an sebenarnya merupakan peluang bagi semua Umat Islam yang bersyahadat dengan Nama Muhammad untuk mengkaji dan menggali nilai-nilai spiritual al-Qur’an untuk dinyatakan menjadi akhlak mulia alias akhlak Muhammad alias akhlak Qur’ani.

Pendek kata, Bulan Ramadhan sebenarnya merupakan napak tilas bagi semua Umat Islam untuk mema'rifati perjanjiannya dengan Allah SWT (syahadatnya) sebagai manusia yang dilahirkan dan berkembang untuk menjalani hidup dengan kesadaran kudus. Napak tilas ini dilakukan lebih intim di Bulan Ramadhan dimana Umat Islam diharapkan dapat mengalami keadaan jasmani dan ruhani yang mirip dengan yang dialami Nabi Muhammad SAW ketika Al Qur’an turun ke Bumi.



Inilah rahasianya kenapa di bulan ini ada yang disebut penyendirian total dengan I’tikaf di masjid pada 10 terakhir bulan Ramadhan dan ada malam Lailatul Qadar atau malam 1000 bulan.

Karena itu, menurut saya, Ramadhan dapat disebut juga sebagai bulan napak tilas Nuzulul Qur’an dan Pemurnian Pengetahuan Tauhid dengan Aslim dan Islam yang lurus seperti halnya moyang Nabi Muhammad SAW dulu yaitu Ibrahim a.s yang memenggal kepala berhala yang dipuja kaumnya.

Dari sini makna jihad melawan hawa nafsu pun dapat diungkapkan kembali sebagai jihad untuk memenggal kepala berhala-berhala hawa nafsu yang masih bercokol di dalam hati Umat Islam. Selain prosesi yang bersifat keruhanian dengan pendidikan dan penerapan praktisnya, di bulan Ramadhan kita merasakan sekali suasana ukhuwah diantara kaum muslimin terjalin sangat erat dengan selalu berinteraksi di Masjid/Mushollah untuk melakkukan sholat berjama’ah. Dan diantara tetangga juga saling mengantarkan perbukaan sehingga antara kaum muslimin terasa sekali kebersamaan dan kesatuan kita. Syahrrul Ukhuwah adalah dimensi praktek yang dinyatakan bersamaan dengan pendidikan jasmani dan ruhani di bulan Ramadhan.

Seiring dengan semua itu, maka semakin jelaslah bahwa Bulan Ramadhan disebut juga sebagai Bulan Ibadah karena pada bulan ini kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah sunnah disamping ibadah wajib seperti sholat sunnat dhuha, rawatib dan tarawih ataupun qiyamullai serta tadarusan Al-qur’an.

Bahkan dalam pengertian yang lebih luas, dimana semua makhluk diciptakan Allah sebagai hambaNya, maka semua aktivitas jasmani dan ruhani kita di Bulan Ramadhan dilatih untuk selalu menyatakan kebiasaan-kebiasaan luhur bahwa semua aktivitas kehidupan kita sejatinya adalah ibadah kepadaNya. Inilah dimensi makrifat Ramadhan ketika Umat Islam memasuki ketakwaan sesungguhnya sebagai tujuan dari diwajibkannya puasa (QS (2) Al-baqoroh Ayat :183). Untuk menjadi manusia takwa, peningkatan kualitas kemanusiaan terjadi di wilayah lahir maupun batin. Artinya dengan pemaknaan, pemahaman, ilmu dan tindakan yang seimbang dengan Kehendak Allah. Dengan hati, akal, dan perbuatan seluruh bagian tubuh manusia.

Puasa Umat Islam di Bulan Ramadhan, akhirnya memang bukan sekedar menahan lapar dan haus secara harfiah. Namun, meliputi seluruh kenyataan diri kita sebagai makhluk yang berjasad, berjiwa, dan diberi amanat Ilahi untuk mengungkapkan jati diri kekhalifahanNya (kemampuannya untuk menerima amanat Pengetahuan Tauhid). Karenanya, tolok ukur keberhasilan seseorang menjalankan puasa Ramadhan sebagai manusia yang takwa justru  akan terlihat bukan hanya saat puasa dilaksanakan semata.

Hasil puasa Ramadhan yang optimal dengan kiasan 1000 bulan, justru harus lebih banyak mempengaruhi perilaku manusia di waktu sesudah puasa, yaitu 11 bulan ke depan sampai kematian tiba.

Penekanan dengan sisipan “harus” ini untuk mengingatkan kita supaya jangan menjadi bodoh dan lalai kembali seolah-olah Umat Islam hanya menjadi umat yang baik di bulan Ramadhan dan menjelang Iedul Fitri saja. Suasana Ramadhan harus dapat disebarkan kedalam rentang waktu 11 bulan kedepan setelah Ramadhan dan Iedul Fitri. Itulah sebenarnya Ladang Maghfirah yang harus mulai kembali diolah terus menerus untuk ditanami dengan amaliah kehidupan untuk menghasilkan buah-buah kehidupan yang paripurna.

Ladang Maghfirah adalah modal sekaligus peluang bagi manusia untuk kembali sadar dan berjalan di jalan Shirathaal Mustaqiim dan sampai dengan selamat di hadirat Allah SWT. Peluang ini berlaku bagi semua umat Islam yang dewasa dan bertanggung jawab, yang jiwanya selama menjalani kehidupan telah terkontaminasi oleh berbagai perbuatan yang tidak patut dalam ukuran norma Iman dan Islam. Tidak ada batasan ketika peluang itu dinyatakan saat Ramadhan yaitu bagi semua perbuatan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak. Karena itu, di bulan Ramadhan yang diwajibkan untuk berpuasa dengan tujuan menjadi takwa, maka jiwa Umat Islam sesungguhnya “dapat” diperhalus kembali ke posisi fitri untuk melangkah kembali ke masa depan dan menjalani kehidupan dengan cerapan makna yang semakin meningkatkan kualitas kemanusiaannya (yaitu sebagai manusia takwa).

Ramadhan, kembali dan selalu akan kembali selama kita masih hidup. Dan selama kita hidup pula, Allah SWT selalu menyediakan waktu ampunan bagi semua manusia, khususnya Umat Islam, untuk berdekat-dekatan dengan keintiman khusus yang disebut Bulan Ramadhan. Jadi, luruskanlah niat untuk beribadah Ramadhan dengan totalitas kehambaan di hadapanNya, tertunduk dan berserah diri padaNya dengan jujur guna meraih ketakwaan sesungguhnya. Marhaban Ya Ramadhan, dalam kesempatan ini, saya sekaligus mohon maaf lahir dan batin.
Read more